Teori tentang pengetahuan
a. Pengetahuan dan Keyakinan
Pengetahuan adalah informasi yang
diketahui atau disadari oleh manusia, atau pengetahuan adalah berbagai gejala
yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan indrawi. Pengetahuan akan
muncul ketika orang menggunakan akal atau indranya untuk mengenali benda atau
peristiwa tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan. Misalnya, saat
pertama kali orang makan cabai maka Dia akan tahu bagaimana rasa cabai itu,
bentuknya, warnanya, atau bahkan akan bertanya-tanya apa zat-zat apa yang
dikandungnya.
Keyakinan adalah suatu sikap yang
ditunjukkan manusia saat dia merasa cukup tahu dan menyimpulkan bahwa dirinya
telah mencapai kebenaran. Maksudnya adalah orang akan merasa yakin kalau apa
yang mereka ketahui adalah benar. Jadi, keyakinan terjadi setelah orang percaya
adanya suatu kebenaran.
Mmenurut teori pengetahuan sebagai
kesesuaian, keyakinan adalah suatu pernyataan yang tidak disertai bukti yang
nyata. Misalnya, petir disebabkan oleh amukan para dewa. Pernyataan ini tidak
bisa dibuktikan, sehingga hanya bisa dikatakan sebagai suatu keyakinan.
Sementara pernyataan petir disebabkan kerena adanya tabrakan antara awan yang
bermuatan positif dan negative adalah suatu kebenaran, karena dapat dibuktikan.
Sehingga pernyataan ini disebut sebagai pengetahuan.
Ada dua istilah yang berhubungan
dengan keyakinan dan pengetahuan.
1. Magic
power- (kekuatan magis) –> fenomena kekuatan gaib. Orang yang lebih percaya
pada sesuatu yang aneh(karena tidak tahu sebabnya) sebagai kekuatan magis
2. Naturalisme, berarti
sesuatu yang alami. .
Ada sebuah cerita tentang seorang
pemuka agama yang bertemu dengan seorang anak. Pemuka agama itu hendak pergi ke
Kantor Pos, tapi dia tidak tahu jalan menuju kesana. Dalam kebingungannya itu
Dia bertemu dengan seorang anak, kemudian pemuka agama itu bertanya” Nak,
apakah kamu tahu jalan menuju Kantor Pos?” anak itu menjawab “ Bapak jalan saja
lurus, nanti kalau ada pertigaan Bapak belok kiri. Bapak jaln terus sampai
menemui perempatan , kemudian belok kanan kurang lebih 300 meter dari peempatan
itu pak!” pemuka agama itu berkata “ Kamu memang anak yang baik, besok di
akhirat saya akan menuntun kamu ke jalan Surga.” Anak itu menyaut “ Yaah
Bapak…jalan ke Kantor Pos saja tidak tahu, apalagi jalan ke Surga.”
Cerita diatas adalah contoh yang
nyata antara apa yang disebut sebagai pengetahuan dan keyakinan. Seorang pemuka
agama percaya dengan omongan anak kecil, tapi seorang anak kecil tidak percaya
dengan omongan seorang pemuka agama. Ini dikarenakan informasi yang diberikan
oleh anak kecil itu adalah adalah pengetahuan yang nyata dan bisa dibuktikan
kebenarannya. Sementara informasi yang diberikan oleh pemuka agama itu hanyalah
berupa suatu keyakinan yang belum bisa dibuktikan kebenarannya. Kita yakin
bahwa Surga dan Neraka itu ada, tapi kita tidak bisa membuktikannya sehingga
sulit untuk dipercaya.
Sesuatu yang erat kaitannya dengan
keyakinan adalah agama. Agama adalah keyakinan yang paling umum dan dianut oleh
sebagian besar orang diseluruh dunia. Banyak orang memandang agama sebagai
sesuatu yang sacral dan suci. Tidak ada orang yang boleh meremehkan kepercayaan
yang satu ini. Pencipta akan mengutus seseorang untuk menyebarkan ajaran kepada
seluruh umat manusia. Ajaran yang diyakini dapat membawa kedamaian bagi umat
manusia. Memang benar, kadang-kadang agama bisa membawa kedamaian bagi manusia,
tapi sebaliknya agama juga bisa menjadi sumber petaka bagi manusia.
Walaupun pegetahuan dan keyakinan adalah dua hal yang berbeda, tapi
sebenarnya dua hal itu adalah saling melengkapi. Tanpa pengetahuan, keyakinan
yang kita miliki tidak akan memberi kontribusi yang berarti dalam hidup kita.
Pengetahuan tanpa diimbangi dengan keyakinan juga akan menimbulkan kekacauan.
Penemuan-penemuan ilmuwan tidak akan memberi kebahagiaan pada manusia jika
dalam pemanfaatanya hanya mengandalkan nafsu saja. Seharusnya dalam pemanfaatan
penemuan itu diikuti dengan pemikiran apakah hal yang dilakukan dengan penemuan
itu benar atau tidak.
b. Sumber pengetahuan : Rasionalisme dan Emprisme
1. Rasionalisme.
Rasionalisme adalah bahwa hanya dengan menggunakan
prosedur tertentu dari akal saja bisa sampai pada pengetahuan yang sebenarnya,
yaitu pengetahuan yang tidak mungkin salah. Menurut kaum rasionalis, sumber
pengetahuan, adalah akal budi manusia. Dengan akal budi yang memberi
pengetahuan yang pasti benar tentang sesuatu. Oleh karena itu, konsekuensinya
adalah kaum rasionalis menolak anggapan bahwa seseorang bisa menemukan
pengetahuan melalui pancaindra. Pemahaman rasionalisme oleh pemikiran dua
2. Empirisisme
Seperti halnya rasionalisme dan para filsuf
rasionalis, empirisme dan juga para filsuf empirisis, sesunggunya ingin
menanggapi persoalan yang diajukan skeptisisme. Kaum empirisis pun ingin
mencari dasar yang kokoh, dasar pembenaran bagi pengetahuan sejati dengan
menvcari bukti yang kuat bagi pengetahuan yang benar, berusaha menemukan
pembenaran, atau pembuktian yang kokoh bagi pengetahuan manusia dengan menuntut
kepastian akan kebenaran pengetahuan manusia, dan karena itu menolak
pengetahuan yang tidak didasarkan pada bukti yang menyakinkan.
Empirisisme adalah paham filosofis yang mengatakan
bahwa sumber satu-satunya bagi pengetahuan manusia adalah pengalaman. Untuk
bisa sampai pada pengetahuan yang benar, menurutnya adalah data dan fakta yang
ditangkap oleh pancaindra. Dengan kata lain pengetahuan yang benar adalah yang
diperoleh melalui pengalaman dan pengamatan pancaindra, dengan sumber
pengalaman dan pengamatan pancaindra tersebut yang memberi data dan fakta bagi
pengetahuan seseorang. Semua konsep dan ide dianggap benar dengan sumber dari
pengalaman seseorang dengan objek yang ditangkap melalui pancaindra.
Atas dasar ini, semua pengetahuan manusia bersifat
empiris. Pengetahuan yang benar dan sejati, yaitu pengetahuan yang pasti benar
adalah pengetahuan indrawi, pengetahuan empiris.
Pengalaman yang dimaksud adalah pengalaman yang
terjadi melalui dan berkat bantuan pancaindra. Pengalaman semacam ini berkaitan
dengan data yang ditangkap melalui pancaindra, khususnya yang bersifat spontan
dan langsung.dengan kata lain bertujuan untuk mengumpulkan fakta dan data
itulah yang merupakan titik tolak dari pengetahuan manusia karena pada dasarnya
mengetahui tentang sesuatu hanya berdasarkan dan hanya dengan titik tolak
pengalaman indrawi.
Pancaindra memainkan peranan penting dibandingkan
dengan akal budi, karena : pertama, semua proposisi yang diucapkan merupakan
hasil laporan dari pengalaman atau disimpilkan dari pengalaman. Kedua,
seseorang tidak bisa punya konsep atau ide apapun tentang sesuatu kecuali yang
didasarkan pada apa yang diperoleh dari pengalaman. Ketiga, akal budi hanya
bisa berfungsi kalau punya acuan ke realitas atau pengalaman.
c. Kebenaran Ilmiah
Salah satu pokok yang
fundamental dan senantiasa aktual dalam pergumulan hidup manusia merupakan
upaya mempertanyakan dan membahasakan kebenaran. Kebenaran boleh dikata
merupakan tema yang tak pernah tuntas untuk diangkat ke ranah akal (dan batin)
manusia. Kebenaran menurut arti leksikalnya adalah keadaan (hal) yang cocok
dengan keadaan (hal) yang sesungguhnya. Itu berarti kebenaran merupakan tanda
yang dihasilkan oleh pemahaman (kesadaran) yang menyatu dalam bahasa logis,
jelas dan terpilah-pilah (Bagus, 1991:86).
Kebenaran ilmiah tidak bisa
dilepaskan dari makna dan fungsi ilmu itu sendiri sejauh mana dapat digunakan
dan dimanfaatkan oleh manusia. Di samping itu proses untuk mendapatkannya
haruslah melalui tahap-tahap metode ilmiah.
v
Definisi Kebenaran
Kebenaran
dapat dipahami berdasarkan tiga hal yakni, kualitas pengetahuan,
sifat/karakteristik dari bagaimana cara atau dengan alat apakah seseorang
membangun pengetahuan itu, dan nilai kebenaran pengetahuan yang dikaitkan atas
ketergantungan terjadinya pengetahuan itu.
Kualitas
pengetahuan dapat dibagi dalam empat macam, yaitu:
Pengetahuan
biasa: sifatnya subjektif, artinya amat terikat pada subjek yang mengenal;
memiliki sifat selalu benar, sejauh sarana untuk memeperoleh pengetahuan
bersifat normal atau tidak ada penyimpangan.
Pengetahuan
ilmiah: bersifat realtif, artinya kandungan kebenaran ini selalu mendapatkan
revisi atau diperkaya oleh hasil penemuan yang paling mutakhir.
Pengetahuan
filsafati: bersifat absolut-intersubjektif, artinya selalu merupakan pendapat
yang selalu melekat pada pandangan filsafat seorang pemikir filsafat itu serta
selalu mendapt pembenaran dari filsuf kemudian yang mengunakan metodologi
pemikiran yang sama pula.
Pengetahuan
agama: bersifat dogmatis, artinya pernyataan dalam agama selalu dihampiri oleh
keyakinan yang telah tertentu sehingga pernyataan-pernyataan dalam kitab-kitab
suci agama memiliki nilai kebenaran sesuai dengan keyakinan yang digunakan untuk
memahaminya itu.
v
Cara Memperoleh Kebenaran
Kebenaran
dapat diperoleh melalui pengetahuan indrawi, pengetahuan akal budi, pengetahuan
intuitif, dan pengetahuan kepercayaan atau pengetahuan otoritatif.
ü
Nilai kebenaran
Bagi
positivis, benar substantif menjadi identik dengan benar faktual sesuai dengan
empiri. Bagi realis, benar substantif identik dengan benar riil objektif, benar
sesuai dengan konstruk skema rasional tertentu.
Sedangkan
benar epistemologik berbeda, terkait pada pendekatan yang digunakan dalam
mencari kebenaran. Kebenaran positivistik dilandaskan pada diketemukannya
frekuensi tinggi atau variansi besar, sedangkan pada fenomenologik kebenaran
dibuktikan berdasar diketemukan yang esensial, pilah dari yang non-esensial
atau eksemplar, dan sesuai dengan skema moral tertentu.
Dengan
demikian, benar epistemologik menjadi berbeda dengan benar substantif. Benar
positivistik berbeda dengan benar fenomenologik, berbeda dengan benar realisme
metafisik. Bagi positivisme sesuatu itu benar bila ada korespondensi antara
fakta yang satu dengan fakta yang lain. Bagi fenomena baru dapat dinyatakan
benar setelah diuji korespondensinya dengan yang dipercayainya (belief).
Pragmatisme mengakui kebenaran, bila faktual berfungsi (Muhadjir 1998:10)
1.
Teori Kebenaran
2.
Teori kebenaran korespondensi
Menurut
teori ini, kebenaran adalah soal kesesuaian antara apa yang diklaim sebagai
diketahui dengan kenyataan yang sebenarnya (Keraf dan Dua M, 2001: 66). Suatu
pernyataan dapat dikatakan benar jika mengandung pernyataan yang sesuai dengan
kenyataan yang ada. Dengan kata lain, kebenaran korespondensi terletak pada
kesesuaian antara subjek dan objek. Teori kebenaran korespondensi ini adalah
teori yang dapat diterima secara luas oleh kaum realis karena pernyataan yang
ada selalu berkait dengan realita.
Ø
Teori kebenaran
koherensi
Kebenaran
ditemukan dalam relasi antara proposisi baru dengan proposisi yang sudah
ada. Suatu pengetahuan, teori, pernyataan, proposisi atau hipotesis dianggap
benar kalau sejalan dengan pengetahuan, teori, proposisi atau hipotesis
lainnya, yaitu kalau proposisi itu meneguhkan dan konsisten dengan proposisi
sebelumnya yang dianggap benar (Keraf dan Dua M, 2001: 88). Dengan kata lain
pernyataan dianggap benar jika pernyataan itu bersifat konsisten dengan
pernyataan lain yang telah diterima kebenarannya, yaitu yang koheren menurut
logika. Sebagai contoh, pernyataan “semua manusia pasti akan mati” adalah
pernyataan yang benar, maka jika ada pernyataan bahwa saya pasti akan mati
adalah pernyataan benar karena saya adalah manusia.
Ø
Teori kebenaran
pragmatis
Teori
pragmatis dicetuskan oleh filsuf pragmatis dari Amerika Serikat Charles S.
Peirce (1839-1914) dalam sebuah makalah yang terbit pada tahun 1878 yang
berjudul “How to Make our Ideals Clear”. Teori ini kemudian dikembangkan oleh
beberapa ahli filsafat yang kebanyakan adalah berkebangsaan Amerika yang
menyebabkan filsafat ini sering dikaitkan dengan filsafat Amerika. Ahli-ahli
filsafat ini di antaranya adalah William James (1842-1910), John Dewey
(1859-1952), George Herbert Mead (1863-1931) dan C.I. Lewis (Suriasumantri,
1984:57)
Bagi
kaum pragmatis kebenaran adalah sama artinya dengan kegunaan. Ide, konsep,
pengetahuan, atau hipotesis yang benar adalah ide yang berguna. Ide yang benar
adalah ide yang paling mampu memungkinkan seseorang (berdasarkan ide itu)
melakukan sesuatu secara paling berhasil dan tepat guna. Berhasil dan berguna
adalah kriteria utama untuk menentukan apakah suatu ide itu benar atau tidak.
Bagi
kaum pragmatis jika ide, pengetahuan atau konsep tidak ada manfaatnya maka ide
tersebut merupakan ide yang tidak benar.
Ø
Teori kebenaran
sintaksis
Teori
ini berpangkal pada keteraturan gramatika yang dipakai oleh suatu
pernyataan tata-bahasa yang melekat. Jadi suatu pernyataan bernilai benar
jika mengikutu aturan gramatika yang baku. Teori ini berkembang diantara para
filsuf bahasa, terutama yang ketat terhadap pemakaian gramatika seperti
Friederich Schleiermacher.
Ø
Teori kebenaran
semantis
Teori
ini dianut oleh faham filsafat analitika bahasa yang dikembangkan pasca
filsafat Bertrand Russel sebagai tokoh pemula filsafat Analitika Bahasa.
Menurut teori ini, suatu pernyataan dianggap benar ditinjau dari segi arti atau
makna. Hal ini hendak menekankan bahwa suatu pernyataan benar jika pernyataan
tersebut memiliki arti.
Ø
Teori kebenaran
non-deskripsi
Teori
kebenaran non-deskripsi dikembangkan oleh penganut filsafat fungsionalisme.
Suatu pernyataan dianggap benar tergantung peran dan fungsi pernyataan itu
sendiri. Pengetahuan akan memiliki nilai kebenaran sejauh pernyataan itu
memiliki fungsi yang amat praktis dalam kehidupan sehari-hari.
Ø
Teori kebenaran
logis yang berlebihan
Teori
ini mempunyai pemahaman bahwa masalah kebenaran hanya merupakan kekacauan
bahasa dan hal ini mengakibatkan adanya suatu pemborosan karena pada dasarnya
pernyataaan yang hendak dibuktikan kebenarannya memiliki derajat logik yang
sama dari masing-masing yang melingkupinya.
Sifat
Kebenaran Ilmiah
Kebenaran
ilmiah paling tidak memiliki tiga sifat dasar, yakni:
1.
Struktur yang rasional-logis. Kebenaran dapat dicapai berdasarkan
kesimpulan logis atau rasional dari proposisi atau premis tertentu. Karena
kebenaran ilmiah bersifat rasional, maka semua orang yang rasional (yaitu yang
dapat menggunakan akal budinya secara baik), dapat memahami kebenaran ilmiah.
Oleh sebab itu kebenaran ilmiah kemudian dianggap sebagai kebenaran universal.
Dalam memahami pernyataan di depan, perlu membedakan sifat rasional
(rationality) dan sifat masuk akal (reasonable). Sifat rasional terutama
berlaku untuk kebenaran ilmiah, sedangkan masuk akal biasanya berlaku bagi
kebenaran tertentu di luar lingkup pengetahuan. Sebagai contoh: tindakan marah
dan menangis atau semacamnya, dapat dikatakan masuk akal sekalipun tindakan
tersebut mungkin tidak rasional.
2.
Isi empiris. Kebenaran ilmiah perlu diuji dengan kenyataan yang ada, bahkan
sebagian besar pengetahuan dan kebenaran ilmiah, berkaitan dengan kenyataan
empiris di alam ini. Hal ini tidak berarti bahwa dalam kebenaran ilmiah, spekulasi
tetap ada namun sampai tingkat tertentu spekulasi itu bisa dibayangkan sebagai
nyata atau tidak karena sekalipun suatu pernyataan dianggap benar secara logis,
perlu dicek apakah pernyataan tersebut juga benar secara empiris.
3.
Dapat diterapkan (pragmatis). Sifat pragmatis, berusaha menggabungkan kedua
sifat kebenaran sebelumnya (logis dan empiris). Maksudnya, jika suatu
“pernyataan benar” dinyatakan “benar” secara logis dan empiris, maka pernyataan
tersebut juga harus berguna bagi kehidupan manusia. Berguna, berarti dapat
untuk membantu manusia memecahkan berbagai persoalan dalam hidupnya.
Kebenaran
ilmiah adalah kebenaran yang sesuai dengan fakta dan mengandung isi
pengetahuan. Pada saat pembuktiannya kebenaran ilmiah harus kembali pada status
ontologis objek dan sikap epistemologis (dengan cara dan sikap bagaimana
pengetahuan tejadi) yang disesuaikan dengan metodologisnya.
Hal
yang penting dan perlu mendapat perhatian dalam hal kebenaran ilmiah yaitu
bahwa kebenaran dalam ilmu harus selalu merupakan hasil persetujuan atau
konvensi dari para ilmuwan pada bidangnya masing-masing.
Kebenaran
ditemukan dalam pernyataan-pertanyaan yang sah, dalam ketidak-tersembunyian
(aleteia). Kebenaran adalah kesatuan dari pengetahuan dengan yag diketahui,
kesatuan subjek dengan objek, dan kesatuan kehendak dan tindakan. Kebenaran
sering dianggap sebagai sesuatu yang harus “ditemukan” atau direbut melalui
pembedaan antara kebenaran dengan ketidakbenaran.